foto: google/benbae blogger

chanelmuslim.com – Jika anak-anak zaman sekarang ditanya kapan akan menikah,  maka umumnya jawabannya adalah setelah umur 20 atau 25 keatas. Biasanya target yang direncanakan mereka,  setelah lulus kuliah dan setelah memiliki pekerjaan. Orang tua pun biasanya mendukung, biasanya orang tua akan memberikan gambaran bahwa menikah harus memiliki pekerjaan tetap.
Meski saat ini,  beberapa public figure sudah ada yang menikah di usia muda,  namun anggapan masyarakat masih belum terlalu positif dengan pernikahan di usia muda. Padahal dalam suatu hadits Rasulullah menganjurkan pemuda yang telah baligh dan mampu untuk segera menikah.

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda; “Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian mempunyai kemampuan memberi nafkah,  hendaklah ia menikah,  karena menikah itu lebih menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan. Barang siapa yang tidak mempunyai kemampuan, hendaklah ia berpuasa,  karena puasa akan menjadi benteng baginya.” (HR. Bukhari) 

Aisyah diserahkan kepada Rasulullah ketika berusia sembilan tahun. Umar melamar Ummu Kultsum,  putri Ali,  padahal Ummu Kultsum masih anak-anak yang suka bermain dengan teman-teman sebayanya. Pendidikan pemuda dan gadis pada masa itu sangatlah berbeda dengan di zaman sekarang. Kematangan fisik dan psikologis mereka pun sejalan, karena mereka didik ketika sudah baligh beban hidup mereka sama dengan orang dewasa karena mereka telah dikenakan hukum syariat sama dengan orang dewasa. Sementara saat ini banyak anak-anak yang secara fisik kematangan seksualnya telah lebih dulu dibandingkan dengan kematangan psikologisnya.

Berita Terbaru  Motivasilah Anak-Anak untuk Rajin Shalat Bukan Menakutinya

Diantara alasan Rasulullah menganjurkan untuk menyegerakan menikah bagi para pemuda yang telah baligh dan mampu memberi nafkah adalah:

  • Agar para pemuda tidak berbuat menyimpang atau sia-sia dan terbawa arus sehingga menjadi mangsa empuk bagi setan dan orang-orang yang menyimpang.
  • Dengan menikah, kemaluan akan terbentengi dari perbuatan zina dan penglihatan terpuaskan hingga terpalingkan dan tertundukkan dari hal-hal yang diharamkan Allah.
  • Pernikahan juga akan menjadi benteng bagi kedua pasangan juga memelihara keduanya agar tidak tergelincir ke dalam kemaksiatan dan perbuatan dosa.
  • Pernikahan juga mengundang pertolongan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah; “Ada tiga macam orang yang wajib ditolong oleh Allah, budak yang berusaha menebus dirinya supaya merdeka,  orang menikah yang ingin memelihara kesucian dirinya,  dan mujahid di jalan Allah.” (Shahih Sunan An-Nasa’i) 

Pernikahan adalah suatu ibadah, karenanya orang tua memiliki kewajiban untuk menikahkan putera atau puterinya jika memang telah mampu dan tidak menunda atau menghalangi karena alasan seperti belum mapan karena pekerjaannya belum tetap atau karena memikirkan biaya pernikahan yang mahal. Orang tua pun berkewajiban memelihara kesucian putera puterinya,  mencarikan suami yang shalih bagi anak perempuan. (w/Islamic Parenting,  Aqwam) 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY