ChanelMuslim.com- Ada pemandangan yang berbeda antara umat Islam Indonesia dengan negeri-negeri muslim timur tengah saat menjelang akhir Ramadan.

Di akhir Ramadan seperti saat ini, sebagian kita begitu sibuk menyiapkan diri untuk menyambut Hari Raya: bikin kue, olahan ketupat, pilih baju baru, cat rumah, hingga pulang kampung. Puncaknya, takbir keliling untuk merayakan “kemenangan”.

Suasana akhir Ramadan menjadi lebih mirip suasana pembebasan dari kekangan daripada sebuah perpisahan. Ramadan saat ini akan pergi untuk selamanya, dan belum tentu kita akan berjumpa dengan Ramadan berikutnya.

Setidaknya, pemandangan sedih sebuah perpisahan biasa terjadi di Mesir dan belahan bumi timur tengah lainnya. Usai shalat Isya di pergantian bulan Ramadan ke Syawal, suasana kota begitu sepi. Jalan-jalan terasa senyap.

Saat itu, sebagian besar umat Islam lebih memilih untuk tinggal di rumah. Sebagian besar mereka duduk bersimpuh di hadapan Allah swt., bermunajat agar lelah dan penatnya ibadah tidak berlalu sia-sia. Mereka menangis, berharap sangat agar ampunan dan maaf Allah swt. mereka dapatkan seiring perginya Ramadan untuk selamanya.

Seperti itulah yang diteladankan oleh Rasulullah saw., para sahabat, tabiin, dan generasi salafus shaleh setelah mereka.

Ali bin Abi Thalib pernah berujar sesaat berlalunya bulan Ramadan, “Aduhai, kalau saja aku tahu siapa gerangan yang diterima amalnya agar aku dapat memberi ucapan selamat dan siapa saja yang ditolak amalnya agar aku dapat menyemangatinya.”

Seorang ulama, Wahab bin al-Ward, pernah mengkritisi mereka yang sangat bersuka cita dengan berlalunya bulan Ramadan. Ia mengatakan, “Jika mereka termasuk yang diterima ibadah puasanya, pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa sukurnya? Dan, jika mereka termasuk yang ditolak ibadah puasanya, pantaskah tertawa itu sebagai ungkapan rasa takut mereka?”

Berita Terbaru  Alternatif Liburan untuk Keluarga Muslim

Mereka yang begitu bersusah payah menjadikan Ramadan sebagai ajang meninggikan mutu ibadah di hadapan Allah swt., tentu akan merasakan seperti yang diungkapkan Ali bin Thalib dan Wahab bin al-Ward, serta para generasi terbaik umat ini.

Mereka takut kalau jerih payahnya selama ibadah Ramadan hanya seperti butiran debu yang melekat di sebuah benda, kemudian terbang begitu saja oleh tiupan angin. Tak punya nilai sedikit pun di sisi Allah swt.

Mereka terus muhasabah, bermunajat agar jerih payahnya selama Ramadan bisa medapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah swt. Bukan berlalu begitu saja.

Namun, bagi mereka yang santai-santai saja di bulan Ramadan, tentu akan merasakan hal lain di penghujung Ramadan. Terlebih lagi yang menganggap Ramadan sebagai “penjara”. Tentu, akan sangat menanti saat-saat menggembirakan berlalunya Ramadan.

Berlalunya Ramadan disongsong dengan penuh suka cita. Tak ada lagi larangan ini dan itu, tak ada lagi dosa ini dan itu, tak ada lagi kekangan ini dan itu. Inilah momen terhebat dalam hidup: lepas dari kungkungan bulan Ramadan.

Mereka seolah berujar, “Selamat datang Idul Fitri. Selamat datang, hari kebebasan!” Bebas untuk bergelimang dosa dan kemaksiatan.

“Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim. Ampuni dosa dan kekhilafan kami. Limpahkan ridhaMu untuk kami. Masukkan kami dalam surgaMu, dan hindari kami dari azab nerakaMu.”

Di antara doa dan munajat seperti itulah yang terus terucap dalam batin yang paling dalam. Yang tertutur melalui celah-celah alunan suara takbir yang berkumandang, saling bersahut dari masjid satu ke masjid yang lain. (mh/foto: independent.ie)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY