ChanelMuslim.com- Umat Islam mulai terhenyak ketika seorang Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, menceritakan bahwa narkoba sudah masuk pesantren. Bagaimana mungkin sebuah lembaga pendidikan Islam paling steril bisa kebobolan racun setan mematikan itu?

Menurut Khofifah yang juga akrab dengan dunia pesantren itu, narkoba masuk pesantren lewat paket yang disebut pengedar sebagai vitamin. Disebutkan bahwa vitamin itu bisa memberikan kekuatan kepada para santri untuk bisa berzikir semalaman suntuk tanpa ngantuk.

“Ada seorang kiyai yang memperoleh narkoba, tetapi diberitahu bahwa narkoba itu vitamin yang manfaatnya bisa kuat berzikir lama, juga kegiatan lainnya,” tutur Khofifah saat berada di Ponpes Abu Darrin, Bojonegoro Jatim, seperti dilansir laman Antara, Ahad (30/7).

Awalnya, paket vitamin itu diberikan secara gratis. Begitu pun yang kedua, dan berikutnya yang ketiga. Tapi, untuk paket yang keempat, kiyai tersebut harus bayar.
Sebelumnya, hal senada juga disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Budi Waseso. Dalam kunjungan di sebuah pesantren, Kepala BNN ini mengingatkan para Kiyai untuk mewaspadai masuknya narkoba ke pesantren.

Menurutnya, ada santri yang mengkonsumsi pil ekstasi dengan maksud agar bisa kuat berzikir lama. (tribratanews)

Astaghfirullah. Kok bisa narkoba, terutama pil ekstasi, bisa masuk ke kalangan pesantren, bahkan sampai ke level Kiyai sekali pun, hingga tiga kali mendapatkan kiriman barang haram itu.

Boleh jadi, seperti yang disampai Mensos, pengedar memanfaatkan ketidaktahuan kalangan pesantren terhadap jenis narkoba dengan istilah vitamin. Atau, bisa jadi, ada santri yang sebelum masuk pesantren sudah menjadi pemakai narkoba.

Apa pun dan bagaimana pun kamuflase para pengedar memasukkan narkoba ke pesantren, tetap saja, ujung-ujungnya jualan. Karena kalau sudah menjadi pecandu, berapa pun harga narkoba, akan menjadi prioritas belanja. Bagaimana pun caranya. Na’udzubillah.

Sebuah kisah tragis pernah terungkap beberapa tahun lalu. Seorang santri dikeluarkan dari pesantren karena kepergok sedang mengkonsumsi narkoba di dalam komplek pesantren.

Berita Terbaru  Kenali Siapa yang Mengabari dan Apa yang Dikabarkan

Sebut saja santri itu bernama Aji. Remaja lulusan SD ini sengaja dimasukkan pesantren oleh orang tuanya karena khawatir lingkungan pergaulan Aji di sekitar rumah.

Meski baru lulus Sekolah Dasar, Aji begitu mudah terpengaruh teman-teman sekitar rumahnya. Antara lain, nongkrong-nongkrong hingga larut malam, dan lain-lain.

Orang tua Aji pun khawatir kalau Aji akan terjebak pada pergaulan buruk. Mereka langsung mencari pesantren yang bisa menerima santri dari sekolah dasar umum. Dan akhirnya, berhasil, lokasinya masih di kawasan Jawa Barat.

Lokasi pesantren yang masih dalam satu provinsi dengan tempat tinggal Aji ini, sengaja dipilih orang tuanya agar bisa mudah menjenguk Aji sepekan sekali.

Aji pun tampak betah-betah saja di pesantren. Ia seperti sudah mendapatkan lingkungan baru yang jauh lebih baik. Hingga beberapa tahun kemudian, orang tua Aji dipanggil pimpinan pesantren.

Menurut Kiyai pesantren itu, Aji kepergok sedang mengkonsumsi narkoba di kamarnya. Setelah digali lebih jauh, pihak pesantren meyakini kalau narkob itu diperoleh Aji ketika pulang ke rumah di saat liburan. Dan baru dikonsumsi ketika berada di lingkungan pesantren.

Sejak itulah, Aji tidak lagi bisa masuk pesantren. Orang tuanya pun memasukkan Aji di madrasah setingkat SMA agar Aji bisa memperoleh ijazah untuk kepentingan masa depannya.

Dunia narkoba sepertinya sudah tanpa sekat. Siapa pun saat ini, bisa menjadi target pengedar, asal bisa membayar. Bukan hanya artis, politisi, polisi, ibu rumah tangga, siswa sekolah dasar, bahkan kini Kiyai di pesantren pun sudah menjadi target.

Apa yang disampaikan Mensos mungkin suatu hal yang sangat miris. Kalau Kiyai saja bisa kebobolan, apalagi dengan para santri yang jauh lebih rentan. (mh/foto ilustrasi: kompasiana.com)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY