foto: google images

chanelmuslim.com – Di setiap bulan Ramadan ada satu malam yang disebut dengan malam kemulian. Satu malam yang setara dengan 1000 bulan. Bayangkan hanya di malam itu setiap amalan kebaikan yang dilakukan nilainya setara dengan 1000 bulan. Malam yang relatif singkat jika kita isi dengan tidur. Namun Allah memberitahukan bahwa malam kemuliaan itu terus berlangsung hingga terbit fajar,  itulah malam lailatul qadar.
Malam kemuliaan itu Allah sebutkan dalam surat Al Qadr. Malam dimana Allah menurunkan Alquran. Beberapa keutamaan malam lailatul qadar berikut kami kutip dari rumaysho.com.

Pertama: Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud lebih baik dari seribu bulan adalah malam Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan, yaitu untuk amalan, puasa, dan shalat malam yang dilakukan ketika itu lebih baik dari seribu bulan.
Mujahid juga berkata bahwa lailatul qadar itu lebih baik dari 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. Pendapat ini juga menjadi pendapat Qotadah bin Da’amah dan Imam Syafi’i. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 609).
Jika ibadah dalam lailatul qadar sama dengan ibadah di seribu bulan lamanya, maka ada keutamaan mendirikan shalat malam ketika itu sebagaimana disebutkan dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan lailatul qadar dengan shalat malam atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760).
Kedua: Malaikat turun pada malam tersebut membawa keberkahan dan rahmat
Allah Ta’ala berfirman,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. ”
Malaikat ketika malam penuh kemuliaan tersebut turun ke muka bumi. Itu menandakan bahwa malam tersebut banyak keberkahan. Malaikat setiap kali turun tentu membawa keberkahan dan rahmat. Sebagaimana malaikat membawa keberkahan ketika mendatangi halaqoh ilmu. Sampai-sampai mereka meletakkan sayapnya karena ridho pada penuntut ilmu.
Sedangkan yang dimaksud dengan “ar ruh” dalam surat Al Qadr adalah malaikat Jibril. Penyebutan Jibril di situ adalah penyebutan khusus setelah sebelumnya disebutkan mengenai malaikat secara umum.
Sedangkan maksud “min kulli amr” dalam ayat tersebut adalah bahwa ketika itu datang keselamatan atau kesejahteraan untuk setiap urusan (perkara).
Ketiga: Setan tidak bisa bertingkah jahat pada malam Lailatul Qadar
Allah Ta’ala berfirman,

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” Yang dimaksud di sini adalah pada malam tersebut penuh dengan keselamatan. Mujahid berkata bahwa setan tidak bisa melakukan kejelekan atau mengganggu manusia pada malam tersebut. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 610.
Ibnu Zaid dan Qotadah berkata bahwa pada malam lailatul qadar hanya ada kebaikan saja, tidak ada kejelekan hingga terbit fajar. Lihat idem, 7: 611.
Keempat: Pada malam tersebut ditetapkan takdir ajal dan rezeki
Ketika menafsirkan ayat terakhir, Ibnu Katsir membawakan perkataan Qotadah dan ulama lainnya bahwasanya pada lailatul qadar diatur berbagai macam urusan. Ketika itu ajal dan berbagai rezeki ditetapkan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam ayat lainnya,

Berita Terbaru  Eropa Negeri Minoritas Muslim dan Perkembangan Musik Islam

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhon: 4).
Kelima: Keselamatan dan rahmat bagi yang menghidupkan lailatul qadar di masjid
Asy Sya’bi berkata mengenai ayat,

مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar“, yaitu kata beliau bahwa keselamatan dan malaikat datang pada malam tersebut bagi ahli masjid, itu berlangsung hingga datang fajar (Shubuh). Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 610.
Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata, “Berbagai hadits yang mutawatir membicarakan tentang keutamaan lailatul qadar dan dijelaskan bahwa malam tersebut terdapat di bulan Ramadhan. Malam tersebut terdapat di sepuluh hari terakhir terkhusus pada malam-malam ganjil. Malam penuh kemuliaan itu tetap terus ada setiap tahunnya hingga hari kiamat. Karena kemuliaan malam tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf dan memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dengan melakukan hal itu, beliau berharap bisa berjumpa dengan lailatul qadar.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 931).
Kapankah malam lailatul qadar itu? Rasul mengisyaratkan dalam hadits-hadits shahihnya bahwa malam lailatul qadar terdapat di sepuluh malam terakhir ramadan,  khususnya di malam-malam ganjil.

“Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam biasa beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Dan beliau bersabda,  “Carilah lailatul qadar dengan sungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.”(Muttafaq Alaih) 

Dalam hadits lain disebutkan,  Rasulullah saw. bersabda; “Carilah lailatul qadar dengan sungguh-sungguh pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir Ramadan.” (HR. Al-Bukhari)

Malam ganjil adalah malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29.  Bersunggung-sungguh dalam mencari lailatul qadar bearti tidak menyia-nyiakan setiap malam di sepuluh hari terakhir kecuali mengisinya dengan ibadah. Meski Rasulullah menyebutkan bahwa malam lailatul qadar terdapat pada malam-malam ganjil,  namun kita dianjurkan untuk melakukan ibadah yang sama di malam-malam genap. Karena itu Rasul menganjurkan beritikaf di mesjid sejak sepuluh malam terakhir. Itikaf pada satu mesjid dan sebagaimana Rasulullah biasa melakukan adalah dengan tidak meninggalkan mesjid dalam sepuluh hari terakhir Ramadan.

Beritikaf di mesjid bisa dilakukan baik laki-laki maupun wanita. Untuk wanita terutama bunda yang memiliki putera puteri tentu harus mempertimbangkan anak-anak ketika akan beritikaf. Namun,  dalam menggapai lailatul qadar, wanita pun dapat meraihnya di rumah. Pastikanlah mengisi setiap malam di sepuluh hari terakhir dengan shalat malam,  tilawah, dzikir, sedekah dan doa-doa. Niatkanlah dengan sungguh-sungguh untuk menggapai lailatul qadar. Tingkatkanlah ibadah kita, persiapkanlah fisik dan stamina kita,  atur waktu istirahat dan juga asupan energi dan nutrisi kita. 

Lailatul qadar adalah satu malam yang layak kita perjuangkan. Gapai lailatul qadar dengan niat,  doa dan ikhtar kita. Semoga Allah mudahkan kita dalam menggapai malam lailatul qadar. (w) 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY