Ribuan tenda didirikan oleh para jamaah di Masjid Habiburrahman PTDI Bandung yang ingin beritikaf. (Foto: newsjid)

Chanelmuslim.com-Ramadan kan memasuki pekan terakhir. Sebagian di antara kita mungkin sibuk dengan persiapan hari raya dan mudik, namun sebagian lain bersedih karena akan ditinggalkan oleh bulan nan suci ini. Inilah kisah mereka yang tak mau luput di akhir Ramadan.

Beberapa aktivitas dan pengorbanan yang dilakukan oleh para shahabiyah Rasulullah saw dalam bulan Ramadhan bisa menjadi motivasi bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt (taqarrub ilallah) terutama di akhir Ramadan.

Shahabiyah, Ramadan, dan Aktivitas Ruhiyah

Allah swt telah mengaruniakan satu malam yang penuh dengan kebaikan dalam bulan Ramadhan yaitu lailatul qadar yang merupakan malam yang paling mulia dalam satu tahun. Oleh karena itu, Rasulullah saw amat menekankan kepada setiap kaum Muslim untuk melakukan qiyam Ramadan yaitu ibadah sunah yang dilakukan pada waktu malam di bulan Ramadan seperti solat sunnah tarawih. Keutamaan qiyam Ramadhan ini telah dinukilkan dalam salah satu hadis Nabi Muhammad saw dari Abdurrahman bin Auf ra berkata, Rasulullah saw bersabda.

“Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan puasa Ramadhan atas kalian, dan aku telah mensunahkan untuk kalian solat malamnya. Barangsiapa yang melaksanakan puasa dan qiyam Ramadan dengan dilandasi keimanan dan mencari ridha Allah swr, maka dia akan diampuni dosanya seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya” [HR an-Nasai no. 2210, Ibnu Majah no. 1328 dan Ahmad no 1663].’

Keutamaan qiyam Ramadhan serta anugerah fadhilah lailatul qadar yang Allah swt karuniakan kepada umat Islam menyebabkan para shahabiyah berlomba-lomba dalam mengejar segala kebaikan yang ada di dalamnya. Hal ini dituturkan sendiri oleh Ummul Mukminin, Sayyidatina Aisyah ra yang berkata,

“Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu jika aku menjumpai lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan? Beliau saw berkata, katakanlah “اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ”Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, yang senang memberi ampunan, maka ampunilah aku.” [HR Ahmad, an-Nasai, Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850].

Selain itu, Aisyah ra dan para istri Nabi Muhammad saw juga turut serta menyertai baginda melakukan itikaf terutama pada 10 hari terakhir Ramadan semata-mata untuk meraih kemuliaan satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan dan juga ridha Allah awt. Terdapat banyak hadits yang disampaikan oleh Aisyah ra menceritakan berkenaan hal ini, di antaranya ialah,

“Bahwa Nabi saw telah beritikaf bersama sebagian istri-istrinya, dan salah seorang istrinya sedang beristihadlah. Istrinya itu melihat darah dan meletakkan wadah di bawahnya untuk menampung darah” [HR Bukhari no 304].

Shahabiyah, Ramadan, dan Aktivitas Politik

Di samping menjalani ibadah khusus (sholat, puasa dan tilawah alquran) serta mengurus rumah tangga, para shahabiyah juga turut memainkan peranan penting dalam medan dakwah dan jihad.

Beberapa peristiwa besar yang terjadi pada bulan Ramadhan adalah persiapan Perang Khandaq yang dilakukan pada Ramadhan 5H. Persiapan ini dilakukan dengan menggali parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah. Shahabiyah yang terlibat dalam persiapan ini adalah puteri Rasulullah saw yaitu Fatimah binti Muhammad yang bertugas menyediakan makanan bagi para Muslimin yang bekerja saat itu. Selain itu, dalam masa peperangan Khandaq ini juga Shafiyah binti Abdul Muthalib berhasil membunuh seorang Yahudi yang mengintai dan mengancam keselamatan para wanita di Madinah ketika kaum Muslimin yang lain keluar berjihad.

Berita Terbaru  1001 Kemaksiatan di Tahun Baru (yang Tak Perlu Ditiru)

Tepat 20 Ramadhan 8H pula, kota Mekkah berhasil ditaklukkan oleh Rasulullah saw. Pasukan tentara Rasulullah saw keluar dari Madinah menuju ke Mekkah pada 10 Ramadhan lalu diikuti oleh para sahabat. Di antara shahabiyah yang mengambil tempat dan menyaksikan bersama peristiwa ini adalah Fatimah binti Muhammad, Ummu Habibah dan Asma’ binti Yazid Al-Ansariyyah. Fatimah binti Muhammad dan Ummu Habibah (anak perempuan Abu Sufyan) menunjukkan kesetiaan dan ketaatan mereka kepada Rasulullah saw dengan tidak memberi perlindungan dan dukungan kepada Abu Sufyan bin Harb apabila Abu Sufyan datang kepada mereka meminta dukungan untuk memperpanjang perjanjian dengan Rasulullah saw yang telah dilanggarnya.

Kemudian, dalam bulan Ramadhan juga terjadi perang Tabuk yang merupakan peperangan yang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah saw. Baginda keluar berangkat ke Tabuk pada bulan Rajab dan kembali ke Madinah pada bulan Ramadhan. Banyak kaum Muslimin saat itu yang ikut menyertai Rasulullah saw untuk sama-sama berjihad melawan bangsa Romawi.

Bukan itu saja, ada di antara mereka yang turut serta menginfakkan seluruh hartanya dalam peperangan ini termasuk para Muslimah. Selain turut berinfak, Ummu Sanan al-Islamiyah ra juga menjadi saksi para Muslimah yang berinfak di jalan Allah ini. Beliau menceritakan sendiri bagaimana keadaan kain yang terbentang di hadapan Rasulullah saw di rumah Aisyah ra dipenuhi dengan minyak masak, gelang-gelang, subang, cincin serta bantuan lain yang diantar oleh para Muslimah untuk melengkapi keperluan kaum Muslimin.

Subhanallah!

Rasulullah saw telah berhasil membina kepribadian para sahabiyah ini dengan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) melalui pendidikan yang berlandaskan aqidah Islamiyah sehingga mereka mencintai serta meletakkan Allah swt dan Rasulullah saw melebihi segala yang ada di sekelilingnya. Mereka telah benar-benar beriman dengan ayat Allah swt yang isinya,

“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak -anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” [at-Taubah (9): 24].

Itulah beberapa kisah keteladanan para sahabiyah dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan. Akankah kita, para muslimah Indonesia bisa mengikuti jejak mereka? (ind/muslimahzone)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY