Foto: info unik

Chanelmuslim.com-Bulan yang agung, Ramadan, kan usai dalam beberapa hari dengan ditandai oleh datangnya bulan Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. Namun, bagaimana memaknai kemenangan bagi seorang muslim di hari raya?

Berhari raya bagi seorang muslim bukan sekadar berbahagia dan bersenang-senang. Tetapi, justru momen untuk semakin menguatkan hubungan dengan Allah Taala, namun sayangnya hal ini sudah banyak dilupakan banyak umat Islam. Mereka lebih fokus pada simbolitas semata, seperti berbaju baru, makan-makan, jalan-jalan, dan menghabiskan uang.

Oleh karenanya, ada baiknya kita mengetahui adab-adab apa saja yang mesti kita lakukan ketika berhari raya, yang dengannya berhari raya menjadi bernilai ibadah di sisi Allah Ta’ala.

Adab-adab Hari Raya
1. Mandi Sebelum Shalat ‘Id
Ibnul Qayyim dalam Za’dul Maad mengatakan, Nabi mandi pada dua hari raya, telah terdapat hadits shahih tentang itu, dan ada pula dua hadits dhaif: pertama, hadits Ibnu Abbas, dari riwayat Jabarah Mughallis, dan hadits Al Fakih bin Sa’ad, dari riwayat Yusuf bin Khalid As Samtiy. Tetapi telah shahih dari Ibnu Umar –yang memiliki sikap begitu keras mengikuti sunnah- bahwa beliau mandi pada hari raya sebelum keluar rumah.

2. Memakai Pakaian Terbaik dan Minyak Wangi
Dari Ali bin Abi Thalib ra, bahwa: Rasulullah saw memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, hasan)

Pakaian terbaik bukan berarti harus baru dan bermerek. Pakaian terbaik adalah pakaian yang kita miliki yang pantas untuk digunakan saat sholat dan bertemu dengan orang (tidak robek, bolong, dsb).

3. Makan Dulu Sebelum Shalat ‘Idul Fitri
“Pada saat Idul Fitri Rasulullah saw tidaklah berangkat untuk shalat sebelum makan beberapa kurma.” Murajja bin Raja berkata, berkata kepadaku ‘Ubaidullah, katanya: berkata kepadaku Anas, dari Nabi saw: “Beliau memakannya berjumlah ganjil.” (HR. Bukhari No. 953)

4. Melaksanakan Shalat ‘Id di Mushala (Lapangan)
Shalat hari raya di lapangan adalah sesuai dengan petunjuk Nabi saw, karena Beliau tidak pernah shalat Id, kecuali di lapangan (mushalla). Namun, jika ada halangan seperti hujan, lapangan yang berlumpur atau becek, tidak mengapa dilakukan di dalam masjid. Kecuali bagi penduduk Mekkah, shalat ‘Id di Masjidil Haram adalah lebih utama.

5. Dianjurkan Kaum Wanita dan Anak-anak Hadir di Lapangan
Mereka dianjurkan untuk keluar karena memang ini adalah hari raya mesti disambut dengan suka cita. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan: “Dianjurkan keluarnya anak-anak dan kaum wanita pada dua hari raya menuju lapangan, tanpa ada perbedaan, baik itu gadis, dewasa, pemudi, tua renta, dan juga wnaita haid.”

Ummu ‘Athiyah Radhiallahu ‘Anha berkata: “Kami diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengeluarkan anak-anak gadis, wanita haid, wanita yang dipingit, pada hari Idul Fitri dan idul Adha. Ada pun wanita haid, mereka terpisah dari tempat shalat. Agar mereka bisa menghadiri kebaikan dan doa kaum muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang kami tidak memiliki jilbab.” Beliau menajwab: “Hendaknya saudarinya memakaikan jilbabnya untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dan ini lafaznya Imam Muslim)

Sunnah-sunnah Hari Raya

1. Shalat Hari Raya ‘Id
Shalat ‘Idul Adh-ha (juga Idul Fithri) adalah sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah: “Disyariatkannya shalat ‘Idain (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalah sunah muakadah yang selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita untuk keluar meramaikannya.”

Berita Terbaru  Begini Cara Islami Liburan Keluarga

2. Mendengarkan Khutbah Hari Raya
Berkhutbah hari raya adalah sunah menurut jumhur ulama, mendengarkannya juga sunah. Syaikh Sayyid Sabiq menerangkan: “Khutbah setelah shalat ‘Id adalah sunah, mendengarkannya juga begitu.”

3. Berangkat dan Pulang Melewati Jalan yang Berbeda
Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhuma, katanya: Nabi saw jika keluar pada hari Id akan menempuh jalan yang berbeda. (HR. Bukhari No. 986)

4. Mengucapkan Selamat Hari Raya: “Taqabbalallahu Minna wa Minka”

Imam Ibnu Hajar berkata:” “Kami meriwayatkan dalam kitab Al Mahamilliyat, dengan sanad yang hasan (bagus), dari Jubeir bin Nufair, katanya: dahulu para sahabat Rasulullah saw jika mereka berjumpa pada hari raya, satu sama lain berkata: “Taqabbalallahu minna wa minka.”

5. Bergembira dengan Pesta yang Halal
Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah: Melakukan permainan yang dibolehkan, gurauan yang baik, nyanyian yang baik, semua itu termasuk di antara syiar-syiar agama yang Allah tetapkan pada hari raya , untuk menyehatkan badan dan mengistirahatkan jiwa.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamdatang ke Madinah, saat itu mereka memiliki dua hari untuk bermain-main. Lalu Beliau bersabda: “Dua hari apa ini?” Mereka menjawab: “Dahulu, ketika kami masih jahiliyah kami bermain-main pada dua hari ini.” Maka Rasulullah saw menjawab: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan buat kalian dua hari itu dengan yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR. Abu Daud)

6. Bertakbir Pada Hari Raya
Untuk bertakbir pada ‘Idul Fitri, Allah Taala berfirman: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah (2): 185)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, dalam Fiqhus Sunnah, mengatakan: “Mayoritas ulama berpendapat bahwa bertakbir pada ‘Idul Fithri dimulai sejak keluar menuju shalat ‘Id, sampai mulainya khutbah. Hal itu telah diriwayatkan dalam hadits-hadits dhaif, walau ada yang shahih hal itu dari Ibnu Umar dan selainnya dari kalangan sahabat nabi. Berkata Al Hakim: ini adalah sunah yang tersebar di kalangan ahli hadits. Dan inilah pendapat Malik, Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur. (1/325).

Sedangkan Imam As Syafi’i mengatakan bahwa bertakbir sudah mulai sejak awal tenggelam matahari akhir Ramadhan.

Itulah beberapa sunnah yang baik dilakukan saat hari raya. Adapun pesta berlebihan, wisata, bahkan berdekatan dengan non mahram akan membuat rusaknya pahala bersenang-senang di hari raya.

Selain berpotensi menambah dosa, berlebihan dalam merayakan hari raya seperti memaksakan berbelanja baju baru dan berwisata ke tempat rekreasi juga bisa meningkatkan pola hidup konsumtif. “Angpau” atau uang lebaran yang diterima anak-anak juga bisa membuat anak berpikir materialisme kecuali memang disebutkan bahwa uang itu reward karena berpuasa sebulan penuh.

Momen lebaran juga identik dengan berkumpul campur baur antara lelaki dan perempuan non mahram yang bahkan memicu terjadinya perzinahan. Lebaran dianggap hari kemenangan yang kebablasan, hawa nafsu pun tidak bisa ditahan lagi sehingga puasa sebulan penuh saat Ramadan tak berbekas dalam diri.

Sepatutnya, kita berkaca kembali, sebelum Ramadan benar-benar berlalu, akankah puasa ini membuat diri dan keimanan menjadi lebih baik? Karena kemenangan sesungguhnya adalah ketakwaan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang menjalani puasa Ramadan setulus hati.

Wallahu a’lam.(ind/fimadani)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY